Sabtu, 04 Juni 2011

TAFSIR LAGU: Mobil Balap


Asoy geboy ngebut di jalanan ibukota
Dipayungi lampu kota di sekitar kita

Suatu hari ada orang yang menantang
Gairah sembalapku makin tak tertahan
Kubalap dia dari kiri banting kanan
Tak kumelihat kuterobos lampu merah
 
Tiba-tiba pak polisi datang menghampiri
Kutancap gas dengan maksud melarikan diri

Akhirnya ku menabrak pohon yang melintang
Tolong dong pak... Tolong dong pak, jangan ditilang
SIM pun tak ada STNK entah ke mana
Dan hingga kini ku berada di tahanan

            Lagu yang sangat unik. Saya suka arrasnsemenya. (sok tau)

Asoy geboy ngebut di jalanan ibu kota.
            Asoy memang, meski berbahaya. Dan kalau maksudnya ibu kota adalah ibu kota Indonesia, maka adegan ini pasti dilakukan malam hari. Karena kalau siang, boro-boro bisa ngebut. Jalan lancar saja sudah bagus.

Dipayungi lampu kota disekitar kita.
            Tuh kan, benar! Malam hari. Tapi bisa jadi diang. Toh tidak ada kata cahayu lampu. Hanya lampunya saja. Dan kalau memang siang, adegan ngebut itu pasti dilakukan di hari pertama lebaran, saat kebanyakan orang sedang shalat id.

Suatu hari ada orang yang menantang.
            Wah, seru nih. Kalau saya bayangkan terjadi dialog.
Pembalap 1      : “Woy! Gue tantang lu makan kentang tanpa tulang sampe kenyang pake kutang di Tangerangg siang-siang bawa parang pake arang!
Pembalap 2      : “ Maksud lu apa, coy?”
Pembalap 1      :” Gue tantang lu balapan!”
Pembalap 2      : “Balapan apa nih, coy?”
Pembalap 1      : “Balap karung! Ya balap mobil lah!”
Pembalap 2      : “Gue jabanin tantangan lu!”
Pembalap 1      :”Gue tunggu lu di bukit tengkorak!”
Pembalap 2      :”..???...”

Gairah sembalapku makin tak tertahan.
            Merasa tertantang, pembalap pun merasa tak bisa membendung emosi balapnya. Dia memenuhi tantangan tersebut dengan tangan terbuka, yang berarti lepas setir.

Ku balap dia dari kiri banting kanan.
            Tanpa basa-basi, balapan pun berlangsung. Tapi ini balapan apa ulat yah? Kok ada banting-bantingan segala. (padahal kok kan buat main badminton) J
Tak ku melihat kuterobos lampu merah.
            Lah, terus, dari mana tahu kalau lampunya lagi merah?
Tiba-tiba pak polisi datang menghampiri.
            Lagi balapan sempat-sempatnya berhenti. Jadi polisi penasarn pengen nanya, “Mas, balapannya udah byom?”

Ku tancap gas dengan maksud melarikan diri.
            Kabur dari polisi. Malah akan membuat polisi curiga. Jangan-jangan pembalapnya  membawa narkoba, membawa senjata tajam senjata api, atau membawa inatang yang dilindungi semisal king-kong atau pegasus.

Akhirnya ku menbrak pohon yang melintang.
            Mungkin sempat terjadi hujan badai sampai membuat pohon tumban dan melintang ke jalanan. Atau mungkin balapannya memang di tengah-tangah kegiatan penebangan hutan.

Tolong dong pak tolong dong pak jangan ditilang.
            Masa tega bener. Lagi celaka begitu malah ditilang. Setidaknya jangan langsung di tilang.
SIM pun tak ada STNK entah ke mana.
            Wah, ternyata pembalapnya belum cukup umur. Ternyata bocah kelas empat SD.
Dan hingga kini ku berada di tahanan.
            Di tahanan anak-anak tepatnya. Dan kita pun tahu bahwa sampai sekarang pembalap belum cukup umur itu masih mendekam di tahanan. Sudah berapa tahun tuh?