Senin, 07 Februari 2011

TENTANG TAFSIR LAGU

            Lagu bermacam-macam jenisnya. Salah satunya adalah lagu yang memiliki lirik. Lirik adalah susunan bahasa yang diucapkan mengiringi, diiringi, atau seiring dengan musik. Dengan kata lain, lirik adalah ucapan yang melantun. Lagi-lagi dengan kata lain, lirik adalah ucapan bernotasi, yang kata lainnya adalah melodi. (ternyata susah, yah, berusaha ilmiah dalam hal musik. Hehe.)
            Dalam industri musik Indonesia, lirik merupakan unsur penting dalam mengkomersialisasi sebuah lagu. Hanya ada sedikit kemungkinan sebuah lagu tanpa lirik. Palingan juga lagu belum jadi, lagu instrumental,  lagu buat karaoke, atau belagu banget sih, lo. Hehe. Ngok.
            Oke.
           Setelah berusaha ilmiah-tanpa-referensi-ilmiah pada paragraph-paragraph di atas, kini tiba saatnya saya menjelaskan, bahwasanya, lagu bagi saya adalah bentuk karya yang bisa mempengaruhi pendengarnya, baik fisik maupun pikiran.
           Contoh pengaruh fisik, selain telinga jadi mendengar sesuatu (ya iya, lah) juga membuat anggota tubuh ingin bergerak. Baik tubuh keseluruhan, maupun sekedar tangan, atau jempol kaki. Dan hal ini biasa disebut bergoyang, berjoget, atau menari. Kalau dipikir-pikir, aneh juga, yah. yang mendengar kuping, yang goyang bagian lain. :) (tapi lebih aneh lagi kalau kuping goyang-goyang pas denger lagu)
            Selain itu, lagu juga bisa membawa pendengarnya kembali ke masa lampau. Tentu hanya sebuah kiasan. Karena lagu bukanlah mesin waktu. Lagi pula, mesin waktu tidaklah ilmiah. Setidaknya belum.....(ya udah, sih!) Biasanya sebuah lagu bisa membawa memori ke saat pendengarnya pertama kali, atau sering, mendengar lagu tersebut.
Betul, kan?
            Tapi bukan itu yang ingin saya bahas dalam tulisan ini. (lalu apa, Gung? Jangan bikin kaget gitu, dong, ah!)
Tulisan (keren) ini berisi tanggapan saya terhadap lagu-lagu yang pernah saya dengar, namun bukan dari segi musikalitas, melainkan dari segi lirik.
            Kenapa saya membahas lirik lagu?
            Kenapa saya tidak membahas adonan dan cara membuat kue nastar?
            Kenapa saya tidak membahas sejarah terbentuknya negara Srilangka?  
            Kenapa? Kenapa? Dan kenapa?
            Karena bagi saya lirik lagu merupakan unsur dalam musik yang paling menghibur ketimbang unsur lain, yaitu musik yang mengiringinya. Yah, setidaknya dalam lagu yang liriknya bisa saya mengerti. Karena kalau liriknya menggunakan bahasa yang tidak saya mengerti, biasanya musiknyalah yang paling saya nikmati. Atau kalau cuma hafal sebagian liriknya saja, setidaknya bagian lirik itu saja yang bisa saya nikmati, sisanya musiknya. Semisal lagu Bon Jovi, It's My live. Paling cuma refff-nya saja lirik bisa dinikmati:
"IT'S MY LIVE (dengan tegas)...... en dedesai asisiuw hay wey (dengan samar-samar)...... ain neuneu didit ma wey......(semakin samar)..........ain neuneu lif waya serpaif......(lebih samar lagi)....... IT"S MY LIVE!!!!! (kembali tegas)......" Yah, mirip-mirip Mr. Bean waktu nyanyi lagu Haleluya gitu, deh.
Maaf sebelumnya. Suara saya memang tidak terlalu bagus, dibanding Pete Sampras. (Pete Sampras emang penyanyi? Bukannya pemain debus?)
            Dan bagi saya lirik-lirik lagu banyak yang bisa dijadikan pembahasan. Dan tulisan ini adala kumpulan pembahsaan seputar lirik lagu tersebut. Cocok bagi kalian yang hobi musik maupun hobi menggali kubur, eh, membaca.:)
Jadi, selamat menikmati analisa saya terhadap penyakit Anda. (???)
Maksudnya, selamat menikmati tafsir lirik lagu saya (kalau memang kepengen). Silakan buka postingan selanjutnya.
Agung Satriawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar