Dinyanyikan oleh Geisha
Judul lagu ini sangat memprihatinkan. Judulnya begitu menggambarkan citra negatif seseorang:
Selalu Salah.
Selalu Salah sangatlah parah. Mending kalau Kadang Salah, atau Jarang Salah. (Asal jangan Kadang Mandi atau Jarang Mandi). Namun, Selalu Salah, ini sangatlah parah!
Andai ini tetang seorang siswa, tentulah dia seperti Nobita, yang dari saya SD sampai lulus kuliah, itu tokoh kelas limaaaaaaaaa.... melulu. Heran. Nggak heran juga, sih, Habis nilai ulangannya enol (0) melulu.
Tapi benarkah Selalu Salah merupakan gelar yang pantas didapatkan orang yang menjadi subjek lagu tersebut. Apa kira-kira kisah di balik lirik lagu itu? Mari kita cekidot lirik lengkapnya.
Dulu memang kita saling bersama
Ku mengira tulus dalam kata
Tapi kini kamu memang berbeda
Ku terluka untuk selamanya
Caramu yang membuat diriku jauh
Kecewa di dalam hatiku
Ku tak mengerti cinta
Indahnya hanya di awal ku rasa
Mengapa kau benar
Dan aku selalu salah
Kini memang kita saling berpisah
Ku merasa sesal dalam kata
Tapi kini kamu memang bersalah
Kau berubah untuk selamanya
Sifatmu yang membuat diriku jenuh
Mendua di balik mataku
Ku tak mengerti dia
Cinta ini bukan hanya kau yang rasa
Ternyata dia bukanlah pujaan dalam hatiku
Ku tak mengerti cinta…
Mari sama-sama kita lihat apa yang terjadi sebenarnya dengan penyanyi lagu ini.
Dulu memang kita saling bersama
Ini berarti yang nyanyi, sebut saja Momo, sudah tidak lagi bersama dengan seseorang. (bekicot mabok juga tau!).
Jika memang mereka bersama, hubungan apa sebenarnya yang terjalin? Kita belum tau. Tapi kebersamaan dua orang bisa saja antara supir dan kernet Metromini.
Ku mengira tulus dalam kata
Momo mengira orang itu, sebut saja Martin, tulus kepadanya. Entah tulus dalam apa? Yang pasti orang itu pernah bilang demikian, karena ada kata ‘tulus dalam kata’.
Tapi kini kamu memang berbeda
Nah, terjadi perubahan di diri Martin. Mungkin Martin berganti profesi menjadi supir truk. Atau menjadi supir kapal selam. Atau berubah menjadi supir UFO. Sampai pada penggalan lirik ini, Momo merasa ditinggalkan. Si Martin memutuskan bersolo karir. Mungkin akibat pembagian honor yang tidak adil.
Ku terluka untuk selamanya
Nah, kan!
Benar saja. Momo merasa ditinggalkan. Dan hal itu membuatanya terluka. Mungkin si Martin pergi sambil nyambit Momo pakai setir yang terbuat dari baja. Atau nyambitnya pakai metromininya sekalian. Hal ini wajar saya duga, karena luka yang dialami Momo bersifat selamanya. Luka yang tak bisa sembuh pastilah luka yang parah, dan disebabkan oleh hal yang luar biasa.
Caramu yang membuat diriku jauh
Jauh... Jauh itu pastilah tentang jarak. Dan ini pasti berkaitan dengan kejadian ditinggalkannya Momo oleh Martin. Mungkin Momo ditinggalkan oleh Martin di tengah jalan tol Cipularang km 80.
“Mo, coba liat ban belakang kiri. Kayaknya kempes deh.”
“Masa sih, Bang?”
“Iya. Kayaknya rada ngegodek nih jalannya. Coba deh elo cek!”
"Jangan cek, dong, Bang, giro aje."
"Ih, apa sih, lo, Mo?! Matre amat."
“Oke deh, Bang. Berentiin dulu donk, Bang, Metromininye.”
CKIIIIT.... Metromini ngerem.
SRET... Momo turun.
...........
BRRMMMMMMMMMMM..... Metromini ngacir.
“DADAH, MOMOOOO!”, teriak Martin, yang menjadi ucapan terakhir dari Martin yang didengar oleh Momo.
Hai itulah yaang merupakan caramu yang membuat diriku jauh....dari rumah.
Kecewa di dalam hatiku
Siapa juga yang nggak kecewa ditinggal di tengah jalan tol?
Tapi masih mending kecewa di dalam hatiku. Coba kalau kecewa di dalam oven? Udah kecewa, gosong pula. Atau di dalam lemari es? Brrrrr.... udah kecewa, kedinginan lagi. Atau kecewa di dalam kubur. Hiiii... udah, mah, kecewa, pengap pula..... Udah, ah.
Ku tak mengerti cinta
Indahnya hanya di awal ku rasa
Ternyata ada ikatan cinta antara Momo dan Martin. Tapi Momo masih lugu. Dirinya belum tahu definisi cinta. Dan Momo tidak bisa membedakan antara cinta dengan kisah cinta. Buktinya Momo merasa bahwa indahnya cinta hanya diawal saja. Padahal mungkin maksudnya kisah cinta. Karena, kalau cinta adalah sebuah rasa yang enak, kapanpun itu terasa. Tapi sebuah kisah cinta boleh jadi berawal manis dan berakhir tragis. Berawal suka, berakhir duka. Berawal bahagia berakhir derita. Berawalan M berakhiran K. Martabak! (ini apaan, sih?!)
Mengapa kau benar
Dan aku selalu salah
Ini adalah kalimat tanya. Meskipun aneh untuk ditanyakan, menurut saya. Karena bagi saya pertanyaan ini tidak perlu dijawab. Apa jawaban yang diharapkan dari pertanyaan macam ini? Jawabannya tentulah pertanyan itu sendiri.
“Mengapa kau benar dan aku selalu salah?”
“Karena aku benar, dan kau selalu salah.”
Hehehe. Iya, kan?
Kecuali pertanyaanya adalah,
“Mengapa kau merasa benar, dan aku selalu disalahkan?”
Ini baru bisa menghasilkan jawaban yang tidak mengulang pertanyaan.
Jawaban yang mungkin dijawab dari pertanyaan ini adalah,
“Karena salah-dan-benar yang aku gunakan adalah salah-dan-benar menurut konsep aku sendiri.”
Begitu, loh, Mo. Kamu, kok, polos sekali, sih. B-)
Kini memang kita saling berpisah
Jelas, sejak kejadian “Trick Ban kempes” itu.... Mensana impor koresano. Elo pergi ke sana, gue ditinggalin di sono.
Ku merasa sesal dalam kata
Seharusnya Momo tidak perlu menyesal karena ditinggal oleh supir semacam itu. Itu pun kalau memang ada hubungan supir-kernet di antara mereka. ‘Kata’ dalam penggalan lirik di atas mungkin berarti Momo sudah mengatakan penyesalannya kepada Martin, atas hubungan mereka selama ini. Dan ini berarti Momo sudah berhasil bertemu kembali dengan Martin. (entah apa yang Momo lakukan pertama kali saat bertemu lagi dengan Martin. Mungkin balas nyambit pakai kopaja. :o)
Tapi kini kamu memang bersalah
Setelah sempat merasa dirinya selalu salah, kali ini Momo menyalahkan atas apa yang telah Martin lakukan terhadap dirinya. Momo menjadi tegas sekarang. (gitu, donk, Mo!)
Kau berubah untuk selamanya
Berbeda dengan Usagi Tsukino, Kotaro Minami, dan Peter Parker, yang masing-masing berubah menjadi Sailormoon, Baja Hitam, dan Spiderman, perubahan yang terjadi pada diri mantan kekasihnya Momo, si Martin, ini bersifat selamanya. Mungkin ini lebih tepat disebut kutukan ketimbang perubahan. Kalau saya bayangkan, mungkin dia berubah jadi Zombie, monster, atau pohon belimbing cangkok.
Sifatmu yang membuat diriku jenuh
Entah sifat yang mana yang membuat Momo jenuh pada martin? Apakah itu sifat yang membuat Martin tega meninggalkan Momo di tengah jalan tol, atau ada sifat yang nampak pada prilaku lainnya? Kalau memang Momo jenuh pada sifat Martin yang satu ini (meninggalkan di tengah jalan tol Km 80, yang nota bene jauh dari rest area), maka berarti Momo sudah mengalami berkali-kali ditinggal di tengah jalan tol seperti itu.
Tega sekali kau, Martin!
Mendua di balik mataku
Ini sangat membingungkan. Yang jenuh si Momo, yang selingkuh si Martin. Harusnya Momo yang selingkuh. Berpaling pada supir metromini lain, yang tidak sampai hati meninggalkan dirinya di tengah jalan tol. Setidaknya cari supir yang hanya tega meniggalkannya di pinggir jalan tol, bukan di tengah jalan tol. Atau kalau pun di tengah jalan tol, setidaknya di Km yang dekat dengan rest area gitu, loh. Biar bisa numpang pipis. (halah!)
Dan salah Martin juga, kenapa menduanya di balik mata. Coba kalau di depan mata, mungkin Momo bisa terima. Atau coba di balik hidung atau anggota tubuh lainnya (ini apa lagi, sih?)
Ku tak mengerti dia.....
Hai, hai, siapa dia? Bolehkah aku melihat sari wajah mu? Hai, hai, siapa dia? (kalo nggak ngerti berarti belom bisa nonton TV pas tahun 90-an)
Siapa dia yang dimaksud oleh Momo? Yang paling mungkin adalah Martin. Momo tidak mengerti, kenapa Martin setega itu pada dirinya. Atau mungkin Martin juga tidak mengerti pada Momo, kenapa Momo sering berkata-kata ngaco, sebagaimana tercermin dalam perkataan berikutnya:
Cinta ini bukan hanya kau yang rasa
‘Cinta ini’ yang dimaksud Momo mungkin adalah kisah cinta mereka. Maksudnya, kisah cinta ini tidak bisa diatur sebagaimana maunya Martin saja. Tapi juga harus melibatkan Momo. Misalkan dalam hal menentukan menu makanan, Martin tidak boleh memaksa Momo untuk menikmati menu lalat goreng favoritnya.
Ternyata dia bukanlah pujaan dalam hatiku
Kalau pujaan itu berarti seseorang yang disembah, maka Momo telah kembali ke jalan yang benar, dari sebelumnya menganut agama penyembah supir metromini.
Tapi pendapat saya itu terlalu extrim sepertinya, maka mari sama-sama kita artikan saja sebagai: Sekarang Momo sadar bahwa Martin bukanlah yang terbaik untuk dirinya
Ku tak mengerti cinta…
Masih nggak ngerti juga?
Hadoh. Momo, Momo....
Kesimpulan:
Jangan salah mengartikan tulus. Karena tulus itu berarti tanpa pamrih. Jadi kalau Anda merasa tulus mencintai seseorang, lalu orang itu meninggalkan Anda, dan Anda ngamuk-ngamuk, itu berarti Anda tidak tulus mencintai dia. Mungkin maksud Anda cinta Anda kepada dia sangatah besar, bukannya tulus.
Nah, jangan juga terlalu besar mencintai seseorang. Karena boleh jadi dia akan meninggalkan Anda. Entah dalam arti berpaling ke orang lain, atau meninggal dunia alias mati. Maka, marilah mencintai dengan besar dan sangat, sesuatu yang tidak akan binasa.
Jika memang manusia "Selalu Salah" eksis di dunia ini. Berhati-hatilah! Jangan berikan dia tangung jawab atau pekerjaan.... apapun. Bukannya tegaan atau dekriminasi, melainkan demi keamanaan peradaban dan stabilitas ekonomi.
Karena kalau jadi tukang daging, salah potong (malah motong sayuran pedagang sebelah). Kalau jadi tukang pijit, salah pencet (yang keseleo jadi patah tulang). Kalau jadi penjada gerbang tol, salah ngasih kembalian (Tarif tol: Rp. 5000. Uang pelanggan Rp. 10000. Kembalian Rp. 50000000. Jasa Marga gulung aspal!). Kalau jadi polisi, salah sangka (menganggap dirinya tersangka, akhirnya menangkap diri sendiri). Kalau jadi customer service, salah sambung (mempromosikan produk pabrik lain).
yang benar itu manusia banyak salahny,,,tpi ga mau disalahin kang,,,hihihihi
BalasHapusHihihi... Ada benarnya, Nang.
BalasHapus